Jalan-jalan ke Kota Tua Kawasan Istimewa Warisan Belanda

Jalan-jalan ke Kota Tua Kawasan Istimewa Warisan Belanda
Jalan-jalan ke Kota Tua Kawasan Istimewa Warisan Belanda

Bagi Anda yang ingin jalan-jalan hemat, yuk jalan-jalan ke Kota Tua kawasan istimewa warisan Belanda, ditanggung akan unik dan menyenangkan karena banyak sekali tempat-tempat yang dapat dikunjungi dan sekaligus belajar sejarah.

Menjadi salah satu destinasi wisata yang digandrungi berbagai kalangan, kawasan Kotatua Jakarta memang memiliki sensasi tersendiri. Deretan bangunan klasik zaman baheula yang memanjakan mata, area yang luas, mudah terjangkau dan murah meriah menjadi pilihan bagi siapapun yang ingin singgah. Mari kita napak tilas terbentuknya Jakarta dari kawasan Kotatua ini.

Tidak lengkap rasanya berkunjung ke Jakarta tanpa singgah ke Kotatua. Kawasan sarat nilai sejarah masa awal berdirinya ibukota. Dari titik inilah Batavia dilahirkan, di bawah kepemimpinan seorang Gubernur Jenderal Belanda.

Oud Batavia atau Batavia Lama, begitu sebutan yang disematkan bagi kawasan ini. Oleh para pelayar Eropa pada abad ke-16 dijuluki sebagai “Permata Asia” dan “Ratu dari Timur.”

Lokasinya persis berada di belakang stasiun jakarta Kota atau yang lazim disebut stasiun Beos, sebuah stasiun yang tidak kalah tuanya dari usia Jakarta itu sendiri. Dari stasiun cukup berjalan kaki menyusuri pedestrian.

Kawasan wisata yang terbuka untuk umum dan gratis ini memiliki empat akses masuk, dari pintu selatan yang berseberangan dengan Museum Bank Indonesia. Pintu timur yang bersisian dengan Museum Keramik dan Senirupa, Pintu utara dan pintu barat.

Deretan bangunan tua klasik ala Belanda mendominasi kawasan seluas 334 ha yang meliputi 134 ha area dalam tembok kota, yang merupakan area inti pelestarian, 159 ha area di luar tembok kota atau area buffer. area Plasa Taman Fatahillah luas sekitar 10.000 meter. Luas tersebut sesuai dengan ketetapan dalam Pergub No. 36 Tahun 2014 area kawsan kotatua.

Jalan-jalan ke Kota Tua Kawasan Istimewa Warisan Belanda
Jalan-jalan ke Kota Tua Kawasan Istimewa Warisan Belanda

Di area Taman Fatahillah ini, pengunjung tak hanya bisa berfoto dari berbagai sudut namun juga menikmati sensasi Jakarta tempo dulu. Area yang steril dari pedagang kaki lima yang sudah dilokalisasi di sisi barat Kotatua dan kebersihan yang terjaga membuat pengunjung betah berlama-lama menghabiskan waktunya di sini.

Jika lelah menyusuri setiap jengkal Kotatua, tersedia banyak kursi yang terbuat dari batu yang melingkari area Taman Fatahillah. Bahkan tak sedikit yang duduk lesehan di pelataran taman sambil bercengkrama.

Taman Fatahillah sendiri dikelilingi empat buah museum yang dikelola oleh Pemda DKI Jakarta, yaitu Museum Sejarah Jakarta, Museum Keramik dan Senirupa, Museum Wayang, dan Musem Bahari. Dan satu Gedung balai Konservasi, saat ini bernama Pusat Konservasi Cagar Budaya.

Museum Sejarah Jakarta adalah ikon Kota Tua, karena selain sebagai bangunan paling awal yang dibangun tahun 1710, bangunan ini juga digunakan sebagai Kantor Gubernur VOC hingga Hindia-Belanda. Di samping itu dari segi arsitektur masih dipengaruhi gaya klasisme.

Jalan-jalan ke Kota Tua Kawasan Istimewa Warisan Belanda
Jalan-jalan ke Kota Tua Kawasan Istimewa Warisan Belanda

Gedung ini berarsitektur baroque classic dengan pilar-pilar tinggi menjulang. Gedung yang digunakan sebagai kantor Gubernur Jenderal VOc setelah menumbangkan Jayakarta ini, peletakan batu pertamanya dilakukan tahun 1627.

Di lantai 2 terdapat menara pantau untuk mengidentifikasi wilayan dilengkapi jam dan beli dan dibuat tahun 1742. Karena gedung ini menghadap sisi utara sehingga bisa melihat kapal-kapal yang bersandar dan bisa melihat seluruh areal Batavia.

Museum-museum buka pada hari Selasa-Minggu pukul 08.00-17.00 WIB, sedang kawasan Plasa Fatahillah dibuka setiap hari mulai pukul 06.00-22.00 WIB. Soal keamanan tak perlu diragukan lagi. Petugas keamanan internal selalu berpatrolia 24 jam di setiap sudut kawasan kota Tua.

Selain itu, ada Satpol PP yang juga berjaga-jaga di area luar kawasan Kota Tua sehingga masyarakat bisa dengan nyaman berekreasi tanpa perlu kuatir.

Setiap hari, semua museum yang ada di kota Tua disinggahi oleh wisatawan yang bisa mencapai 6.000 pengunjung bahkan bisa lebih ketika akhir pekan dan hari besar atau hari libur nasional.

Berdasarkan catatan pengunjung yang datang ke TIC (Tourist Information Center) Kota Tua, rata-rata pengunjung didominasi oleh wisatawan domestik dari kalangan remaja, seperti murid sekolah dan mahasiswa. Serta sebagian lain dari kalangan dewasa, dan wisatawan mancanegara.

Jalan-jalan ke Kota Tua Kawasan Istimewa Warisan Belanda
Jalan-jalan ke Kota Tua Kawasan Istimewa Warisan Belanda

Menurut staf Pelayanan dan Informasi Kawasan Kota Tua, dalam konteks pariwisata, selain site attraction (bangunan bersejarah), Dinas Pariwisata DKI Jakarta menyelenggarakan event attraction, seperti pagelaran wayang sebulan sekali di Museum Wayang, pembuatan keramik di Museum Keramik dan Senirupa, serta kegiatan-kegiatan komunitas seperti sepeda ontel, pembuatan batik, seminar, dan lain sebagainya.

Semua kegiatan tersebut sesuai dengan tema dan eksistensi Kota Tua sebagai tempat wisata sejarah dan edukasi.

Kota Tua merupakan kota dengan nilai historis dan arsitektural yang sangat penting dan berbeda dengan kawasan-kawasan wisata lain. Dan hanya Kota Tua lah masih ada pelabuhan Sunda Kelapa yang mana tempat berlabuhnya kapal-kapal Phinisi yang terkenal.

Kawasan ini merupakan salah satu kota pertama yang dibangun kolonial Belanda untuk memonopoli perdagangan rempath-rempat, dan sebagai cikal bakal kota metropolitan Jakarta saat ini, oleh sebab itu nilai historisnya sangat penting sekali.

Berdasarkan literatur sejarah, awalnya Kota Tua Jakarta pada abad 11-13 merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Padjajaran, dengan nama Sunda Kelapa. Pada masa pemerintahan Kerajaan Banten berubah nama menjadi Jayakarta yang dipimpin oleh Pangeran Jayakarta.

Pada tahun 1620, Belanda mendirikan Kota bernama Batavia dan hingga pertengahan abad 19, pusat kota dipindahkan ke Weltevreden hingga berkembang menjadi Kota Jakarta saat ini.

Jalan-jalan ke Kota Tua Kawasan Istimewa Warisan Belanda
Jalan-jalan ke Kota Tua Kawasan Istimewa Warisan Belanda

Pembangunan kawasan ini didasarkan pada ambisi menjadikan Batavia sebagai kota terkaya kedua setelah Amsterdam. Tahun 1629 pembangunan terhenti setelah meninggalnya J.P. Coen, kemudian tepat pada 25 Januari 1707 mulai dibangun kembali.

Kota Tua telah mengalami proses revitalisasi sejak tahun 1975 oleh Gubernur DKI Ali Sadikin dan sudah dicanangkan sebagai daerah pemugaran. Kini dengan adanya Pergub No. 36/2014 tentang Rencana Induk Kota Tua, Kota Tua telah dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata kesejarahan di Jakarta karena berbagai keunikan dan keunggulan yang dimilikinya.

Dalam proses pembangunan revitalisasi sejak tahun 1970an, selain mengubah fungsi sejumlah gedung menjadi museum, hingga pada tahun 2015 dengan keterlibatan swasta ada 14 gedung yang sudah selesai dan masih dalam proses pemugaran atau renovasi.

Berdasarkan guideline Kota Tua yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI tahun 2008, kategori pemugaran gedung klasifikasi A agar tidak diubah sama sekali, dan untuk gedung kategori B dan C, sebisa mungkin tidak mengubah bagian fasade (tampak muka bangunan).

Contohnya adalah Gedung Samudera Indonesia di Jalan Kalibesar yang masih dipertahankan fasadenya tetapi bagian belakang sudah dibangun dan digunakan sebagai perkantoran.

Selamat jalan-jalan ke Kota tua Kawasan Istimewa Warisan Belanda yang pastinya akan memberikan kenangan yang tak terlupakan.

Baca juga: Kursus Digital Marketing SB1M di Bali.

Kasih Komentar kamu di sini