Cara Mengatasi Anak yang Belum Bisa Berjalan

Cara Mengatasi Anak yang Belum Bisa Berjalan
Cara Mengatasi Anak yang Belum Bisa Berjalan

Banyak faktor yang menyebabkan si kecil belum bisa berjalan. Tapi yang jelas, hal ini tidak berhubungan dengan kecerdasan intelektualnnya. Artikel ini akan membahas cara mengatasi anak yang belum bisa berjalan agar Anda tidak perlu kuatir lagi pada anak Anda.

Tidak ada batasan usia yang pasti kapan seorang anak harus sudah bisa berjalan. Setiap anak mengalami variasi perkembangan yang berbeda-beda. Jadi hal ini memang bersifat individual.

Kemampuan berjalan anak berhubungan dengan kemampuan motoriknya. Kemampuan motorik terdiri dari kemampuan motorik kasar dan motorik halus. Kemampuan motorik halus misalnya adalah memegang benda-benda kecil. Sedangkan kemampuan motorik kasar misalnya tengkurap, berjalan hingga berlari. Kedua kemampuan ini harus diamati dalam perkembangan anak, terutama di usia batita.

Tahapan perkembangan motorik kasar dimulai sejak bayi baru lahir, di mana ia mulai bisa mengangkat kepalanya. Kemudian, ia belajar tengkurap bolak balik, lalu merangkak. Tahap merangkak dapat dilakukan dengan menggunakan lutut dan telapak tangan serta bear position, di mana anak merangkak menggunakan telapak tangan dan kaki yang lurus.

Tahapan cara mengatasi anak yang belum bisa berjalan adalah anak belajar untuk duduk dengan ditopang oleh tangan. Setelah itu, ia akan duduk tanpa perlu topangan tangan. Sebenarnya saat anak sudah bisa duduk sendiri, ia sudah dapat belajar berdiri dan berjalan.

Pada awalnya, anak akan belajar berdiri dengan berpegangan pada sesuatu. sEtelah itu, ia mulai belajar merambat, berpegangan pada kursi atau meja. Pada saat melangkah, orangtua dapat membantu memegang badan anak. Jika sudah cukup lancar berjalan, orangtua dapat melepas satu pegangan tangan, sehingga anak lebih leluasa bergerak. Semakin lama, ia akan semakin berani melangkah.

Orangtua dapat mengetahui kapan anak bisa berjalan sendiri ketika beban di tangan terasa lebih ringan saat memegangnya.

Rentang waktu antara tahapan yang satu dengan berikutnya tidak dapat dipastikan. Normalnya anak bisa lancar berjalan sekitar 11 hingga 15 bulan. Bukan berarti di luar rentang usia tersebut – entah lebih cepat ataupun terlambat berjalan – maka anak dikategorikan tidak normal.

Ada mitos yang beranggapan bahwa usia anak untuk berjalan berhubungan dengan tingkat kecerdasan intelektualnya. Jika anak lambat berjalan, maka IQ-nya rendah. Hal itu tidak benar sama sekali. Kemampuan motorik anak yang terlambat berjalan juga tidak akan berpengaruh di masa mendatang.

Mendorong Anak Belajar Berjalan
Banyak faktor yang menyebabkan anak terlambat berjalan, antara lain faktor psikologis dan sikap orangtua yang terlalu melindungi.

Faktor psikologis berhubungan dengan karakter anak. Misalnya, jika anak pernah terjatuh saat belajar berjalan, maka ia bisa takut dan tidak percaya diri untuk mencoba lagi. Ada juga anak yang sudah mau berjalan, tapi tidak mau lepas dari pegangan tangan orangtuanya.

Untuk anak yang kurang percaya diri seperti itu, anak harus diberi motivasi berupa pujian saat ia berani, tapi juga jangan memarahi atau membandingkan dengan orang lain, jika ia masih takut.

Ada juga orangtua yang tidak pernah memberi kesempatan pada anak untuk latihan berjalan. Misalnya selalu digendong atau didudukkan dalam kereta dorong. Sikap seperti ini dapat membaut anak menjadi malas berlatih jalan.

Sebaliknya, anak belajar berjalan di permukaan lantai yang keras, bukan di tempat tidur atau sofa. Hal itu bertujuan agar telapak kaki anak dapat bertumpu di posisi yang benar. Jika di tempat yang permukaannya flesibel mengikuti hgerak fisiologis telapak kaki, maka akan mengganggu keseimbangan tubuh anak saat berdiri atau berjalan.

Saat belajar berjalan, anak juga harus bertelanjang kaki tanpa alas. Jika tetap ingin memakai alas, bisa memakai kaos kaki yang anti slip. Saat berjalan di luar rumah, gunakan sepatu yang ringan dan lentur serta berbahan katun agar terhindar dari jamur dan bakteri.

Stimulasi juga diperlukan dalam hal ini, misalnya menyuruh anak mengambil mainan pada jarak yang pendek. Saat anak berjalan mendekat, orangtua jangan malah semakin mundur. Biarkan anak puas mengambil mainan tersebut. Setelah itu, coba lagi lebih jauh.

Kebiasaan anak yang suka mendorong meja dan kursi bisa membantunya belajar berjalan. Namun meja dan kursi itu harus kokoh agar tidak mudah terguling. Alat yang patut dihindari adalah baby walker. Alat tersebut dapat menimbulkan ketergantungan dan cara melangkah yang salah, yaitu seperti mengayuh, bukan menapak pada lantai.

Latihan berjalan bisa dilakukan pada saat yang menyenangkan, misalnya saat anak sedang tidak mengantuk dan sambil bermain. Hal itu bertujuan agar anak tidak merasa terpaksa berlatih jalan.

Kelainan khusus
Kemampuan berjalan anak akan timbul dengan sendirinya. Namun gangguan perkembangan motorik akibat penyakit-penyakit tertentu bisa menjadi hambatan. Misalnya, penyakit polio yang menyerang sarang motorik menyebabkan kaki menjadi kecil sebelah. Ada juga kelainan celebral palsy yang merupakan kelainan pada otak yang menyebabkan hipotoni atau hipertoni, di mana otot menjadi terlalu lembek atau terlalu kaku sehingga tidak dapat menyangga tubuh dengan baik. Untuk anak yang mengidap kelainan-kelainan tersebut memerlukan penanganan khusus, yaitu dengan fisioterapi.

Hambatan lain bisa timbul karena faktor keturunan, gizi buruk, dan anak terlalu gemuk. Bagi wanita yang mengalami masalah saat persalinan perlu berhati-hati, karena pendarahan dan hipertensi yang terjadi dapat menyebabkan pasokan oksigen berkurang. Akibatnya pertumbuhan janin terganggu dan berdampak pada kemampuan motoriknya.

Demikianlah cara mengatasi anak yang belum bisa berjalan. Semoga bermanfaat.

Artikel lainnya: Tips Merawat Peralatan Dapur Berbahan Gelas.

Kasih Komentar kamu di sini