Berwisata ke Balai Kota Jakarta sambil belajar Sejarah Kota Jakarta

Berwisata ke Balai Kota Jakarta sambil belajar Sejarah Kota Jakarta
Berwisata ke Balai Kota Jakarta sambil belajar Sejarah Kota Jakarta

Tgl 15 Oktober 2017 nanti kita akan memiliki gubernur baru yang akan menggantikan Ahok-Djarot di Balai Kota seiring berakhirnya periode pemerintahan 2012-2017. Banyak sekali karangan bunga yang dikirimkan ke Balai Kota. Tahukah kamu, kamu bisa lho berwisata ke Balai Kota Jakarta sambil belajar sejarah Kota Jakarta.

Sebagai kantor pimpinan ibukota, Balai Kota DKI Jakarta memiliki sejarah panjang – sepanjang usia Jakarta. Bangunan yang kini kita kenal sebagai Balai Kota resmi digunakan sebagai kantor pemerintahan Batavia atau Gemeentehuis Batavia pada 1919.

Berwisata ke Balai Kota Jakarta sambil belajar sejarah Kota Jakarta
Sebelumnya kantor pemerintahan Batavia mengalami dua kali pemindahan. Pertama adalah pada 1905 di Gedung Museum Sejarah Jakarta, Taman Fatahillah, lantas berpindah ke Tanah Abang pada 1913.

Berwisata ke Balai Kota Jakarta sambil   belajar Sejarah Kota JakartaPada 1 Oktober 1926, Gemeentehuis Batavia berubah menjadi Stad Gemeentehuis Batavia, dan nama ini dipakai sampai masa pemerintahan Jepang. Lantas, pada masa pendudukan Jepang, kantor pemerintahan tersebut ganti nama menjadi Djakarta Tokubetsusi, dengan kepala pemerintahan yang disebut Sityoo.

Setelah Indonesia merdeka, kantor tersebut menjadi Balai Agung Pemerintahan nasional Kota Djakarta dengan walikota pertama, Soewirjo. Saat terjadi agresi Belanda pada 21 Juli 1947, Soewirjo dan para pejabat walikota ditangkap dan diusir keluar Jakarta.

Setahun kemudian, Belanda membentuk pemerintahan pra-federal yang mengukuhkan Jakarta sebagai ibukota negara dan berada langsung di bawah pemerintahan Kerajaan Belanda. Balai Agung pun menjadi Stad Gemeente Djakarta. Nama ini digunakan sampai Pemerintahan Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949.

Berwisata ke Balai Kota Jakarta sambil   belajar Sejarah Kota JakartaSejak 31 Maret 1950, Kota Jakarta resmi berkedudukan sebagai Kotapraja Djakarta dan Soewirjo dikembalikan pada posisinya selaku walikota. Tahun ini pula, Jalan gambir Selatan sebagai “rumah” pusat pemerintahan tersebut resmi menjadi Jalan Merdeka Selatan.

Sekitar tahun 1954, Balai Kota mengalami perluasan dengan penambahan satu gedung. Pada 1960, di bawah Walikota sumarno, nama Pemerintah Kotapraja Djakarta Raya diubah menjadi Pemerintah Daerah Chusus Ibukota (DCI) Dajakrta menyusul Kota Jakarta yang memperoleh kedudukan istimewa menjadi setingkat dengan Daerah Swatantra Tingkat I. Kepala daerahnya disebut gubernur.

Baru pada tahun 1972, penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dalam Bahasa Indonesia mengubah DCI Jakarta menjadi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, yang resmi menjadi ibukota negara berdasarkan UU No. 120 Tahun 1964.

Kompleks Balai Kota berdiri di atas lahan seluas 3,5 hektar, termasuk dengan Gedung DPRD yang berada di Jalan Kebon Sirih. Saat memasuki kompleks tersebut, Anda akan menjumpai enam pilar kokoh membentengi Balai Kota yang terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan No. 8, Jakarta Pusat.

Mengapa enam? Karena DKI Jakarta memiliki enam wilayah administratif, yakni Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu.

Berwisata ke Balai Kota Jakarta sambil   belajar Sejarah Kota JakartaGedung Balai Kota sendiri adalah bangunan kuno khas kolonial yang sarat nuansa Betawi. Lihat saja bagian pendopo yang acap kali digunakan sebagai area teras yang dimanfaatkan para tamu untuk beristirahat sejenak sebelum masuk ke Balai Kota. Di dalam pendopo yang berbentuk memanjang tersebut terdapat tiga set kursi tamu khas Betawi berupa kursi kayu dengan meja bundar.

Bangunan Balai Kota terdiri dari tiga lantai. Mari kita telusuri satu per satu. Ruang Transit Tamu menjadi ruangan pertama yang ada di gedung ini. Di sinilah tempat para tamu kedinasan menujnggu sebelum bertemu dengan gubernur atau wakil gubernur di ruang tamu.

Di sayap kanan, terdapat ruang kerja gubernur yang berhadapan dengan ruang tamu, tempat gubernur atau wakil gunernur menerima tamu-tamu kedinasan pemerintahan provinsi DKI Jakarta. Setelahnya ada Ruang Galeri Foto yang memajang foto gubernur DKI Jakarta dari masa ke masa.

Selangkah kemudian, Anda akan menemukan aula besar yang disebut Balairung. Ini adalah ruang serbaguna untuk memfasilitasi berbagai acara pemerintah provinsi. Yang istimewa di ruangan ini adalah replika Al Qur’an Mushaf Jakarta yang bermotif desain Monas. Mushaf berukuran besar ini butuh waktu dua tahun pembuatan yakni pada 2000-2002.

Berwisata ke Balai Kota Jakarta sambil   belajar Sejarah Kota JakartaDi sisi Balairung terdapat ruang rapat pimpinan dan ruang TPUT (Tim Pembebasan Urusan Tanah), yang juga sering digunakan sebagai ruang jamuan makan para tamu kedinasan yang datang.

di ujung Balairung, ada serangkaian anak tangga yang akan membawa kita ke Balai Agung di lantai dua. Dulu, ruangan ini adalah ruang rapat DPRD-GR (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong).

Kini, Balai Agung digunakan sebagai lokasi acara seremonial Pemprov DKI Jakarta, salah satunya adalah pelantikan pejabat pemerintah daerah atau perangkat daerah. Di dalamnya terdapat deretan kursi yang disusun menyerupai teater, dan di bagian depan terdapat panggung besar berlatar marmer hijau. Pengunjung atau peserta acara bisa pula duduk di area balkon.

Di lantai ini pula terdapat ruang kerja Wakil Gubernur DKI Jakarta, yang berhadapan dengan pintu masuk ke Balai Agung. Satu lantai di atasnya adalah markas operasional Jakarta
Smart city.

Berwisata ke Balai Kota Jakarta sambil   belajar Sejarah Kota JakartaIngin berkunjung? Anda bisa mengikuti Wisata Balai Kota, program yang berjalan sejak dua tahun lalu dan dilakukan setiap akhir pekan. Anda bisa berwisata ke Balai Kota Jakarta sambil belajar sejarah Kota Jakarta.

Tujuan dari Wisata Balai Kota adalah memberikan kesempatan kepada masyarakat umum, khususnya warga DKI Jakarta, untuk mengetahui seluk-beluk Gedung Balai Kota dan berwisata ke Balai Kota Jakarta sambil belajar sejarah Kota Jakarta.

Antusiasme warga terhadap wisata edukasi ini cukup tinggi. Terbukti, setiap akhir pekan, jumlah pengunjung bisa mencapai 900 orang. Masyarakat yang datang boleh masuk, duduk, hingga berfoto di dalam Balai Kota. Tentu saja, ada sejumlah ruangan yang tidak bebas dimasuki, seperti Ruang rapat, Ruang Tamu, dan Ruang Kerja Gubernur.

Wisata Balai Kota. Kantor Balai Kota DKI Jakarta. Jl. Medan Merdeka Selatan No.8, Jakarta Pusat. Buka: Sabtu dan Minggu, Pk. 09.00-17.00 WIB. Tiketnya GRATIS.

Jika Anda ada waktu, Anda bisa berwisata ke Balai Kota Jakarta sambil belajar sejarah Kota Jakarta di hari Sabtu dan Minggu. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda.

Baca juga: Cara Registrasi SIM Card Prabayar.

Kasih Komentar kamu di sini